FilsafatPendidikan
Trending

Mind Healing; Effective Treatment ala Sarjana Psikologi

Masalah psikologi kaum muda dan berbagai solusinya

 

Menginjak usia beranjak dewasa apakah kamu pernah merasa bahwa hidup yang sedang dijalani terasa  tidak baik-baik saja? Merasa bahwa tidak ada seseorang yang benar-benar bisa mengerti diri kita, atau merasa bingung harus melangkah kemana dan tidak ada tempat yang tepat untuk sekedar bercerita? Semakin dewasa semuanya terasa semakin rumit, pelik, ketika sendirian selalu overthinking mengenai berbagai hal di masa depan. Namun, keadaan memaksa untuk harus selalu bisa survive terlepas dari sekeruh apa permasalahan hidup itu.

Yap, kiranya begitulah masa-masa transformasi dari remaja menuju dewasa, atau bahkan yang sampai hari ini masih berusaha untuk beradaptasi pada kondisi tersebut. Masa dimana masalah seperti quarter life crisis, insecurity, depression, dan sederet masalah lain yang tentu berkaitan dengan persoalan psikologis lainnya. Pelbagai macam hal di atas adalah peristiwa yang hampir pernah dialami oleh semua orang.

Prevalensi tingginya orang yang mengalami gangguan jiwa serta keresahan yang sedang dihadapi oleh kaum muda di uisa-usia produktif ini tidak bisa disepelekan. Merujuk dari hasil Riset Kesehatan Dasar terbaru tahun 2018, ada 19 juta penduduk berusia di atas 15 tahun pernah mengalami gangguan mental, juga terdapat 12 juta yang mengalami depresi. Lantas bagaimana cara yang tepat untuk merespon dan mengambil sikap ketika menghadapi situasi demikian?

Buku “What’s So Wrong About Your Self Healing” karya Ardhi Mohamad bisa menjadi rekomendasi bacaan bagi orang yang sedang mengalami masa-masa sulit saat menghadapi transformasi hidupnya. Setelah karya pertamanya yang bertajuk “What’s So Wrong About Your Life”, sarjana psikologi ini kembali menerbitkan buku keduanya pada bulan Oktober 2021 dengan nuansa yang berbeda. Pasalnya, ia menerbitkan bukunya bersama Alvi Syahrin dengan nama penerbit Alvi Ardhi Publishing.

Berbeda dari buku kebanyakan, karya Ardhi kali ini seperti menghadirkan seorang teman yang bisa mengerti kegalauan apa saja yang sering dialami mayoritas orang. Perihal intensitas relasi dengan orangtua, teman, kesepian, kecemasan tiap saat, kegagalan berulang, kesedihan tak berujung, harapan yang dihajar realita, sampai kebingungan mencari alasan untuk hidup. Semuanya dibahas secara spesifik dengan pembawaan yang memahamkan.

Misalnya saja di bab “Feels Like I Have The Worst Parents”, Ardhi selalu memulai penjelasannya dengan mengupas permasalahan dari akarnya, mengapa kita bisa menjadi pribadi yang tertutup, kita mudah menyerah, sering merasa i’m not worth it, dan lain sebagainya. Kemudian setelah mengetahui persoalannya, ia mencari asal usul faktor tersebut, yakni salah satunya karena pola asuh orangtua yang diterapkan kepada kita sejak kecil.

“Pola asuh orangtua terhadap kita berpengaruh besar terhadap diri kita hari ini. Dan, orangtua adalah hubungan pertama kita. Ikatan emosional pertama yang seharusnya berhasil, supaya kita punya self-esteem yang baik”  (h 14.)

Akan tetapi, penjelasan Ardhi disini bukan semata-mata hendak menyalahkan orangtua. Sang penulis justru mengutarakan bahwa mereka juga produksi dari orangtua mereka yang belum tentu sempurna, lagipula sejatinya tiada pola asuh yang terbaik, sebab berbeda situasi, beda pula penanganannya. Ardhi mengingatkan, bahwa memang semestinya tidak baik terus menerus menyalahkan faktor eksternal yang ada di luar kendali kita, karena itu bukanlah solusi yang tepat dan malah tidak dapat memberikan perubahan apapun.

Sehingga pada bukunya ia mengajak pembaca untuk menerima dan memperbaiki luka masa kecil itu supaya mampu memulai memahami segala sesuatu yang ada di sekitar. Tak hanya itu, ia juga menguraikan problem secara ilmiah sekaligus spiritual. Sebagai sarjana psikologi, ia memberikan penjelasan mengenai teori-teori yang berkesinambungan dengan topik yang diulas. Setelah dijelaskan, baru kemudian ia memberikan penawaran solusi sekaligus menyelipkan nilai-nilai agama pada setiap pesan yang disampaikannya secara ringan.

“Remember that we’re not that helpless kids anymore. Sekarang kita bisa bertindak, kita bisa rising above, kita bisa mulai memberi daripada terus-terusan menuntut. Kita lakukan ini bukan dengan harapan agar mendapat balasan baik dari orangtua, tetapi karena ini perintah Allah” hlm 49.

Uniknya, buku dengan design cover berwarna hitam kuning ini dicetak menggunakan layout yang menarik. Pada setiap akhir bab, penulis menyajikan review singkat berbentuk mind mapping dengan font yang tidak monoton, tentu saja itu  sangat membantu daya ingat pembaca supaya fokus pada hal-hal penting yang disampaikan dalam buku.

Terlebih, buku kedua Ardhi sangat interaktif. Beberapa bagian ia memancing pembaca supaya turut memberikan argumen, jadi seseorang bisa menempatkan diri untuk brainstorming keadaan dirinya dan mengerti respon yang tepat untuk menyikapi masalah tersebut dengan cara yang seperti apa.

Adapun yang spesial dari karya sarjana Universitas Negeri Jakarta ini karena bukunya juga dilengkapi dengan bonus yang sangat mendukung mind-healing para pembaca, mulai dari bookmark, wallpaper, serangkaian podcast eksklusif, sampai surprise content.

Akan tetapi, gaya bahasa penulis dalam bukunya menggunakan mixed language antara bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia. Tentu saja hal ini terkadang sedikit sulit dipahami bagi orang yang belum terbiasa, namun di sisi lain justru hal tersebut dapat dijadikan sebagai media untuk belajar bahasa asing.

Secara keseluruhan, buku ini dapat menjadi sebuah langkah awal untuk peduli dengan diri sendiri, paling tidak dengan membacanya seseorang bisa mengerti apa yang sebenarnya dibutuhkan, bagian mana yang kurang tepat, supaya kita mampu menerima, agar dapat menyembuhkan luka-luka psikologis yang ada dalam diri kita. Seperti yang penulis katakan, “Seringnya kita berusaha agar orang lain mampu menerima kita daripada kita belajar untuk menerima diri sendiri”.

 

Judul Buku                  : What’s So Wrong About Your Self Healing

Penulis                         : Ardhi Mohamad

Penerbit                       : Alvi Ardhi Publishing

Cet/Tahun                   : Ketiga/2021

Jumlah Halaman         : 276 halaman

ISBN                           : 978-623-97002-1-8

Peresensi                     : Elviana Feby Dwi Jayanti

Minerva Foundation

Minerva Foundation adalah organisasi nir laba yang bergerak di dunia literasi. Didirikan dengan harapan tinggi mampu meningkatkan etos baca masyarakat Indonesia, khususnya generasi mudanya. Program utamanya adalah beasiswa buku yang diintegrasikan dengan penulisan review-buku. Minerva Foundation diimpikan sebagai tempat refrensi utama bagi seseorang yang ingin mempelajari apa yang ia ingin pelajari melalui buku-buku yang diulas oleh jaringan penikmat buku Minerva.id.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button