BudayaPendidikanScience

Memahami Dunia Pasca Teknologi

Memahami Karya Filosof Neil Postman

 

 

Judul: Teknopoli: Budaya, Saintisme, Monopoli Teknologi

Penulis: Neil Postman

Penerjemah: M. Danil Herdiman

Penerbit: Basabasi, 2021

Halaman: 276 halaman

Peresensi : Joko Priyono (Penulis Lepas. Bergiat di Lingar Diskusi Eksakta)

 

Dunia terus bergerak dengan menghamparkan berbagai realitas dalam peradaban. Ilmu pengetahuan menjadi satu bagian terpenting di dalamnya. Manusia sebagai spesies Homo Sapiens dengan warisan akalbudi menjadi pionir dalam aktivitas membuka tabir demi tabir misteri kehidupan. Kemampuan bernalar dan berpikirnya lantas membuka peluang akan berbagai kemajuan yang dilahirkan dari ilmu pengetahuan. Satu di antaranya adalah teknologi, yang mana secara mendasar jadi kerja praksis dari ilmu pengetahuan. Teknologi dengan beragam jenisnya membuka peluang untuk meningkatkan martabat umat manusia.

Namun, apakah dengan demikian teknologi memberikan jaminan akan kehidupan lebih baik atau peningkatan martabat manusia? Rasanya tidak. Pada kenyataannya, teknologi adalah satu hal yang mengandung paradoksial. Ada ancaman tak terkira atas keberadaan teknologi. Apalagi, di era serba “teknologi” baik itu sebagai slogan kemajuan sebuah negara maupun lambang kemakmuran, nyatanya teknologi turut melahirkan masalah-masalah baru. Di antaranya: meningkatnya budaya konsumerisme, menguatnya kesenjangan sosial, bahkan kejahatan dengan memanfaatkan teknologi, baik itu perundungan, pembohongan, penipuan, dan pencurian.

Agaknya, Niel Postman lewat buku berjudul Teknopoli: Budaya, Saintisme, Monopoli Teknologi memiliki pemikiran dengan didasarkan pada kondisi permulaan dunia pasca teknologi. Akademisi dari New York University itu memaparkan lanskap gagasannya dengan istilah teknopoli, situasi di mana sebuah masyarakat tidak sebatas menggunakan teknologi sebagai sistem pendukung dalam kehidupan, namun juga terkait akan bagaimana teknologi mengambil alih peran dalam membentuk sebuah peradaban di kelompok masyarakat.

“Teknopoli adalah sebuah keadaan budaya. Ia juga merupakan kondisi pikiran. Ia adalah pendewaan teknologi, yang berarti budaya mencari otoritasi dalam teknologi, menemukan kepuasan dalam teknologi, dan menerima tatanannya dari teknologi. Ini membutuhkan pengembangan jenis baru tatanan sosial, dan keniscayaan mengarah pada penggerusan cepat banyak hal yang terkait dengan kepercayaan-kepercayaan tradisional” (h. 99).

Kenyataan yang kemudian dipaparkan oleh Postman akan maujud dari keberadaan teknologi itu antara lain seperti anak datang ke sekolah karena ada faktor yang mengondisikan—keberadaan televisi dengan pengaruhnya. Ada gejolak perebutan pengaruh baik itu politik, agama, dan perniagaan. Hal itu melahirkan kegagalan akan makna pendidikan. Kegagalan tersebut tak disebabkan pendidikan itu sendiri, melainkan dari kompilasi yang dihadirkan dari perang media.

Dalam lingkungan teknopoli, orang dibiasakan melakukan sesuatu dilandaskan pada bagaimana cara mengakses informasi. Ia disingkirkan dari perkara memahami tujuan dengan melontarkan sebuah pertanyaan. Kondisi tersebut tentu saja mengasingkan diri dari sikap berpikir kritis dan skeptis. Situasi tersebut tentu membahayakan bagi keberadaan tiap manusia. Bagaimana teknologi dengan kekacauan yang membayangi kemudian memanipulasi pikiran manusia. Kehidupan manusia rumit dan runyam.

Saintisme

Keberadaan saintisme begitu erat dengan keberadaan teknopoli. Saintisme muncul tak terlepas dari unsur pengekangan yang muncul di kalangan saintis atas kepercayaan maupun ideologi yang diyakini. Hubungan antara sains dan ideologi pada dasarnya melahirkan dua watak yang berbeda. Di satu sisi keduanya memiliki persamaan mendasar dalam mewujudkan tujuan berupa aksiologi dalam tataran masyarakat, namun di sisi lain melahirkan ancaman keberadaan saintisme, yang berarti sains dengan metodologinya diakui sebagai satu-satunya sumber kebenaran.

Di catatan filsuf perempuan, Karlina Supelli (2017) menjabarkan dua hal yang menjadi ancaman terhadap ilmu pengetahuan. Masing-masing adalah relativisme dan fundamentalisme. Sebagaimana diungkapkan Karlina dalam ceramah ilmiah berjudul Ancaman Terhadap Ilmu Pengetahuan, saintisme mengarah pada konsep fundamentalisme. Fundamentalisme tidak selalu bersifat keagamaan. Fundamentalisme saintis tersebut berupa: menaruh semua urusan kehidupan di bawah satu sistem nilai yang diyakini paling mendasar dan murni, yang tidak tercemar oleh tafsir.

Postman mengungkapkan tiga argumen mendasar yang mengurai keberadaan saintisme yang kemudian menjadi satu pilar dari keberadaan teknopoli. Pertama, gagasan bahwa metode ilmu pengetahuan alam bisa diterapkan pada kajian manusia. Kedua, asas spesifik yang dihasilkan dalam ilmu sosial untuk menciptakan realitas pengetahuan yang rasional dan manusiawi. Ketiga, integrasi antara iman dan sains yang dapat membentuk kepercayaan komprehensif untuk memberi makna kehidupan, rasa kesejahteraan, moralitas, dan keabadian.

Menuju Kesadaran

Kesadaran apa yang perlu dilakukan dalam menghadapi situasi tersebut? Ada pola yang mestinya dilakukan dalam menghadapi keberadaan teknopoli. Postman mengungkapkannya di bagian akhir yang ada di buku tersebut. Ia merujuk pada tradisi trans-disiplin ilmu pengetahuan sebagai konsep dalam pendidikan.

“..kurikulum di mana semua mata pelajaran disajikan sebagai tahap perkembangan sejarah umat manusia; di mana filsafat ilmu, sejarah, bahasa, teknologi, dan agama diajarkan; dan di mana ada penekanan kuat atas bentuk klasik ekspresi artistik” (hlm. 264).

Secara tersirat, ia menghindarkan pola keilmuan yang dikotomis, ia menekankan bahwa setiap ilmu pengetahuan saling memiliki hubungan erat. Apalagi di saat situasi kompleks yang hadir berkat perkembangan dalam teknologi secara pesat. Teknologi dan kebudayaan bukanlah dua hal yang berlainan. Namun, keduanya silih berganti saling memberikan pengaruh. Kebudayaan yang telah ada memberikan peluang munculnya teknologi baru. Sebaliknya, teknologi yang ada saat ini melahirkan kebudayaan baru dalam fase perkembangan manusia.

Pada situasi pasca teknologi sebagaimana digambarkan oleh Postman, kompleksitas yang muncul adalah sesuatu yang nyata. Seakan manusia terus diuji pada perkara eksistensi dirinya. Akankah manusia secara kolektif dapat melalui fase tersebut dengan mengedepankan teknologi yang berwajah kemanusiaan? Atau bahkan teknologi justru menguasai keberadaan manusia dengan kedigdayaannya dan lepas tanpa kontrol? Peradaban terus dinamis. Kita tak perlu khawatir, andai kita terus berani menyangsikan segala realitas yang ada dengan keteguhan diri dalam memfungsikan akalbudi. Begitu.[]

 

Minerva Foundation

Minerva Foundation adalah organisasi nir laba yang bergerak di dunia literasi. Didirikan dengan harapan tinggi mampu meningkatkan etos baca masyarakat Indonesia, khususnya generasi mudanya. Program utamanya adalah beasiswa buku yang diintegrasikan dengan penulisan review-buku. Minerva Foundation diimpikan sebagai tempat refrensi utama bagi seseorang yang ingin mempelajari apa yang ia ingin pelajari melalui buku-buku yang diulas oleh jaringan penikmat buku Minerva.id.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button